Minggu, 17 Mei 2009
The New Game of Mudvayne
Pada November 2008, grup ini merilis album kelima mereka berjudul The New Game, yang oleh Dave Fortman (produser) disebutkan bahwa album ini akan disukai oleh pendengar Mudvayne. Band ini pun lebih berasa rock daripada album album awal yang lebih cendrung metal ditingkahi sesekali repetan Chad Gray (vokalis). Di album ini, Chad terkadang lebih sering “bernyanyi” daripada sekedar berteriak-teriak. Dan permainan gitar Greg Tribbett pun disini lebih terdengar variatif. Di seksi bass (Ryan Martinie) dan drum (Matt McDonough) cendrung memainkan pola yang sama seperti album terdahulu, cabikan bass yang cendrung funk dan hentakan dobel kick.
The New Game dimulai dengan menarik pada lagu Fish Out Of Water, dimana cabikan bass Ryan dan kocokan gitar Greg saling isi dan bersahutan. Polanya adalah lagu ini pelan diawal dan keras dibagian reffrain. Penempatan lagu yang tepat sebagai awal yang baik. Pola ini kembali diulang pada singel pertama dari album ini, Do What You Do, yang menurut penulis sangat layak menjadi singel pertama. Mudvayne pun menurunkan tempo pada lagu kelima, A Cinderella Story. Dan album ini ditutup dengan lagu bertenaga, We the People.
Secara keseluruhan, Mudvayne telah menurunkan tempo dalam bermain musik. Ini terasa pada album ini. Beberapa lagu bertempo mid dan slow. Awal kejenuhan? Ataukah Mudvayne sudah merasa begitu “dewasa” mengingat bertambahnya usia para personilnya, sehingga mereka bermain lebih pelan? Atau bisa jadi Mudvayne ingin memperluas ruang lingkup pendengarnya dengan kesadaran terdapat perubahan pola dari musik mereka, dari metal menuju akar rock.
Terlepas dari itu, bagi penggemar Mudvayne, album ini memang masih terdapat beberapa lagu yang bisa memuaskan dahaga mereka. Dan bagi pendengar baru pun akan “wellcome” dengan album ini.
Untuk rating, penulis memberi 3 dari 5 bintang (3/5 stars).
Tracklist:
1. "Fish Out of Water
2. "Do What You Do"
3. "A New Game"
4. "Have It Your Way"
5. "A Cinderella Story"
6. "The Hate in Me"
7. "Scarlet Letters"
8. "Dull Boy"
9. "Same Ol'" 9
10. "Never Enough"
11. "We the People"
Personil :
* Chad Gray − vocals
* Greg Tribbett − guitars, backing vocals
* Ryan Martinie − bass
* Matthew McDonough − drums
Kamis, 16 April 2009
Lacuna Coil (Shallow Life,2009)
Band gothic rock/Alternative Rock asal Italia ini mengeluarkan album baru yang bertitel Shallow Life , dirilis pada bulan April 2009, dan penulis sungguh penasaran apa sih garis besar dari band band semacam ini.
Read more
Selasa, 05 Agustus 2008
Disturbed yang tak bisa dihancurkan… (Indestructible-2008)

Bagi penulis awalnya merasa bahwa band rock asal Chicago (terbentuk tahun 1996) ini hanya musiman disaat wabah nu metal merajai sekitar tahun 1999 – 2001 yang dipelopori oleh band KoRn yang terkenal dengan album “Follow the Leader” –nya dan juga Limp Bizkit. Group ini sejaman dengan Papa Roach, Adema, Drowning Pool, dll.
Dengan promosi yang cukup gencar pada Maret 2000, mereka meluncurkan album “The Sickness” (Giant Records) dengan single “Down with the sickness” yang lumayan meledak dan mendapat perhatian khalayak penikmat musik, kemudian menghiasi beberapa soundtrack film, juga mendapat respon positif bagi penulis, karena band ini berbeda corak musiknya dibanding band band lain disaat wabah nu metal tsb. Repetan bass drum-nya itu lho…kayak senapan mesin…,dan ada pula repetan vokal (kayak ngerap) pada bagian tertentu dari lagu, plus ritem gitar yang cendrung heavy (tebal). Cool….
Formasi awal band tsb adalah; David Draiman - Vocals (1996-sampai sekarang), Dan Donegan - Guitar, Electronics (1996-sampai sekarang) ,Mike Wengren - Drums (1996-sampai sekarang), dan Steve "Fuzz" Kmak - Bass (1996-2003) yang kemudian pada saat ini posisinya diisi oleh John Moyer - Bass, Backing Vocals (2004-sampai sekarang)
Band ini menuai kontroversi dengan mendukung file sharing musik lewat internet. Alasannya (David Draiman) adalah ketika band membuat lagu (album) dan band ingin lagu mereka didengarkan orang. Dengan teknologi internet ,band merasa mereka akan mampu menjangkau lebih banyak pendengar daripada kemampuan band itu sendiri (lewat promosi dan semacamnya). Baik bener group ini….
Oke….Selanjutnya penulis memiliki (membeli) album kedua dari band ini yaitu “Believe” (2002,Reprise Records). Terlepas dari hit-hit mereka antara lain “Prayer” (video klip yang menarik), "Liberate" dan "Remember", penulis merasa inilah titik balik penulis-dari penyuka (penikmat) musik Disturbed menjadi Disturbed “yang layak diacuhkan”. Akibatnya penulis tidak mengikuti perkembangan album band ini selanjutnya (“Ten Thousand Fist”,2005,Reprise Records). Apa pasal? Apa sebab? Itu lho….Cover album band yang menurut penulis (secara pribadi) agak sensitif, yaitu menggabungkan lambang-lambang agama didunia plus lambang bintang Daud (anda tau lambang itu khan…?). Akhirnya tuh album penulis berikan saja kepada keponakan tanpa menikmatinya lebih lama. Sayang sekali….Penulis termasuk kolektor kaset dan CD dari band-band yang menarik, dan album kedua Disturbed terpaksa menjadi pengecualian….
Inti dari tulisan ini adalah menyambut album baru dari Disturbed yang bertitel “Undestructible” (3 Juni 2008,Reprise Records). Album ini secara keseluruhan tidak lepas dari pakem Disturbed, seperti yang telah penulis singgung pada paragraf-paragraf awal. Nampaknya band ini merasa nyaman bermain (memainkan) musik yang seperti itu. Tapi bagi penulis, seharusnya Disturbed sudah saatnya membuat beberapa perubahan (corak musik) dan sentuhan-sentuhan baru, toh perubahan jaman telah terjadi dan sangat dinamis, jadi mengapa harus bertahan dan berkutat dengan pakem lama?
Dibuka dengan sampling raungan sirine, tembakan senapan mesin dan helikopter, menggebraklah “Indestructible”. Lagu ini standar Disturbed banget. Biasa aja. Tapi ditutup dengan synth yang menarik. Mengingatkan penulis akan sesuatu…. Lagu kedua, masih standar yang dibuka dengan efek gitar yang menarik, meluncurlah “Inside the Fire”, banyak dibilang sebagai single pertama dari album baru ini. Di lagu ketiga, lagi lagi biasa aja. Disturbed memperlambat tempo walaupun tetap heavy. Dan penulis mulai merasa tersentuh (dapet feel…) dari lagu ke-4, “The Night”. Inilah lagu yang akan membuat pendengarnya akan berdendang bersama pada reffrain lagu. Menarik, walaupun diawali dengan biasa-biasa aja (lagi-lagi…). Dan Donegan dengan gagah meraungkan gitarnya pada bagian solo. Komplet! Lanjut melawat ke lagu ke-7,termasuk lagu menarik (“Enough”), dan agak setipe dengan “The Night”. Diawal awal kita sudah diancang-ancang untuk bergoyang. Kita juga dapat bersenandung di reffrainnya. Dan tak lupa repetan ngerap David di bagian tengah. Hmm….Oke juga. Dan ditutup dengan “Facade”, yang lagi lagi (huuuhhh..) biasa.
Overall, dari album ini dapat ditarik kesimpulan, rentetan double bass drum, solo gitar yang menarik dan ritem heavy, bass yang tebal, repetan vokal, dan pilihan nada yang menarik (bernyanyi) pada vokal dibagian reffrain (yang membuat pendengarnya ikut bersenandung), menghebohkan kalau dibawakan secara live (dipanggung), adalah pakem dari Disturbed, terlepas dari masih bingungnya pengamat dan kritisi musik menggolongkan jenis musik mereka.
Track List :
1. Indestructible
2. Inside The Fire
3. Deceiver
4. The Night
5. Perfect Insanity
6. Haunted
7. Enough
8. The curse
9. Torn
10. Criminal
11. Divide
12. Facade
Rating : 3 bintang dari 5 bintang (three of five stars).
Source : www.wikipedia.com
Wikipedia® is a registered trademark of the Wikimedia Foundation, Inc
Poetimusically
Mengenai musik, penulis mencoba menawarkan semacam referensi dari musik yangg penulis dengar pada saat ini, tentu juga akan membahas album terbaru dari artis-artis penyanyi yang kebetulan penulis lebih “familiar” (kenal). Nantinya dibahas dari sudut pandang penulis supaya dapat menjadi pertimbangan bagi pembaca untuk mendengarkan musik, apakah musik tersebut layak dengar atau bikin sakit kuping aja? Standarnya adalah berapa bintang yang berhasil diperoleh musik tsb dari skala
· Satu bintang * : jelek, hoeeks (muntah), bad
· Dua ** : tidak mengigit, poor
· Tiga *** : biasa, normal
· Empat **** : menarik, layak dengar, good
·
Semoga apa yang penulis bahas berguna. Welcome to You…
Jumat, 01 Agustus 2008
Black Light Burns….And turn to dust.

Anda kenal Limp Bizkit (LB)?. tentu. siapa yang tak kenal grup band asal AS yang fenomenal ini. Fred durst (Vokal) yang nge-rap dan agak bengal, dan yang menarik ulah gitaris LB, Wes Borland, dengan selalu memakai lensa kontak warna hitam dan suka melaburi tubuhnya dengan warna-warna suka-suka.
nah, kita bicara mengenai nih orang (Wes). Setelah keluar dari LB dan gabung lagi saat pembuatan album LB “the unquestionable truth part 1” kemudian status wes tidak jelas lagi, setidakjelas keberlanjutan dari LB sendiri.
Dan Wes pun mengakui bahwa saat ini prioritasnya adalah band barunya yang bernama “black light burns”.
awalnya nih orang telah membuat side project saat suntuk bersama LB yang diawali dengan band “BIG DUMB FACE”, band konyol ala Wes,. disini Wes berperan sebagai vokalis,gitaris,bassis and drumis…(also programming). Diberitakan bahwa band BDF ini adalah cara WES untuk mengetes penerimaan pemirsa (pendengar) akan music style yang akan diusung Wes (yang multi instrumentalis) dengan semangat yang tidak serius. dan dilanjutkan dengan “EAT THE DAY”.
And now, Wes mencoba meng-eksis-kan dirinya melalui Black Light Burns (BLB), sebagai vokalis! dan hal inilah yang akan dikomentari penulis.
penulis telah mendengar tiga lagu dari album perdana BLB (Cruel melody), dan kesimpulannya… sebaiknya wes tutup mulut aja deh, and play those guitars! dari tiga lagu itu (animal, lie, & coward) menurut penulis hanya animal yang menarik perhatian.
Coba anda bayangkan suara fred durst bila menyanyikan lagu ini (animal), pasti anda pikir lagu ini “Limp Bizkit” banget! Jadi sebenarnya (kesimpulannya) Limp bizkit itu adalah Wes Borland, tanpa menyampingkan peran personil lainnya.
Oke. lupakan Limp Bizkit.
nih orang ngga cocok jadi vokalis (atau vokal nya yang ngga cocok dengan musik yang diusungnya : Alternative Rock/Industrial Rock). Musiknya oke, gahar, hard, tapi vokal seperti seseorang yang sedang bersenandung kecil didalam kamar mandi, terlepas dari bahwa Wes memiliki ke-khas-an sendiri dalam bermain gitar. dan juga ia seorang yang brilian (dalam bergitar).
sebaiknya Wes tetaplah berfokus dengan instrumen yang sangat dikuasainya sampai saat sekarang (dan disegani) : Gitar. biar orang lain saja yang jadi vokalis. seorang Wes tak kan redup bila hanya memainkan gitar. bagaimanapun yang terjadi, anggota band yang terkenal biasanya sang vokalis dan gitaris. dan Wes tak akan kehilangan perhatian.
tapi usaha WES pantas diacungi jempol, berani muncul ke rimba per-musik-an dan menunjukkan inilah Wes Borland apa adanya (dan ngga malu, ngga mau menipu, dan pede aja lagee…). ia mencoba jujur dalam bermusik.
Rabu, 30 Juli 2008
Mengenai Blog ini
Penulis menamai blog ini Poetimusically : terdiri dari gabungan dua kata "Poet" dan "Music", dan penulis akan membahas mengenai dua hal tersebut. Mengapa?
Sesuai dengan motto penulis :"Life with Music", kehidupan penulis dari bayi sampai sekarang selalu diwarnai oleh musik. Ini dilatarbelakangi dari keluarga penulis yang berjiwa seni dan melakukan seni. My Father adalah seorang gitaris akustik dengan genjrengannya yang memiliki ciri khas sendiri. My Mother adalah seorang pengajar di sekolah, dan bila ada pertandingan group vokal (paduan suara), beliaulah kadang kadang menjadi pelatihnya. Jadi wajar saja kehidupan penulis diwarnai seni (musik).
I'm the new one
Oh dear...
tulisan ini dibuat sebagai uneg-uneg saya yang lagi sedih atas suatu musibah. Mau tahu?
Sebagai seorang penikmat musik, tentu selalu mendengarkan musik. Nah, selama ini yang menjadi andalan saya adalah MP3 player Advance 1GB kesayangan saya. Dari situ saya selalu mendengarkan lagu favorit dari genre apasaja (terutama rock), kapan saja. Dari situ pula saya mendapat inspirasi me "review" grup atau artis tertentu yang kebetulan lagunya ada dalam MP3 player tsb, dan dituangkan dalam blog ini.
Masalahnya? Tunggu...Sabar doong... Itu tadi...MP3 player tsb hilang tercecer entah dimana. Isinya cukup berharga bagi saya, karena ada lagu-lagu tertentu yang baru saya donlot yang rencananya akan di"review" (Kalo tidak salah rencananya saya akan mengulas tentang Black Light Burns, grup Alternative Rock tempat Wes Borland-eks Limp Bizkit-"bersarang" saat ini) dan terdapat beberapa program utilitas yang cukup penting bagi saya-dan belum sempat disalin ke ACER 2424 saya.
Akibatnya, hidup terasa ada yang kurang. Ada yang aneh. Dunia terasa kurang "garam". Parahnya lagi, kantong lagi tipis (maklum belum gajian) dan rasanya tidak "etis" untuk pengeluaran pembelian MP3 player saat ini. Akhirnya "posting" terbaru jadi terhambat dan ide yang telah tertuang tidak bisa di"publish".
(Pinjamin uang dong....hehehehe)